cw: kissing.

terkadang, ada hari-hari di mana morgan tidak mengerti kenapa naalira seperti anak kecil (memang masih, sih.) yang akan meraung kalau ditinggal mamanya. ada hari di mana naalira menempel ke dirinya bak koala di pohon eukaliptus. contohnya seperti sekarang, naalira membungkus hampir seluruh bagian tubuh morgan sembari mereka terbaring di kasur yang lebih tua.

naalira sedang terlelap sekarang, sedang morgan masih memainkan ponselnya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas agar tak mengganggu sang kasih. duh pegel dan haus, batin morgan. tapi melihat kesayangannya terlelap begitu nyenyak membuatnya segan untuk bergerak. namun tenggorokannya sudah kering karena terpapar ac dan ia ingin meregangkan kedua lengannya yang pegal, jadi ia elus pelan rambut naalira dan memanggilnya lembut.

“acil, sayang. boleh baring di bantal dulu gak? aku mau ambil minum sebentar di bawah, ya?”

naalira perlahan menggeliat, tapi nihil membuka matanya. hanya mulutnya yang sedikit terbuka dan terdengar gumaman samar yang tak dapat morgan dengar.

“hm? kenapa, sayang?” ujarnya menepis jarak agar lebih terdengar.

“hmng… jangan tinggalin aku.”

“aku gak ninggalin kamu, acil. aku mau ambil minum aja sebentar.”

“aku takut sendirian…”

ocehan kecil yang keluar dari mulut naalira buat morgan terpaku sebentar. baru kali ini dia dengar tiga kata tersebut dan tidak bisa menerka apa alasan kenapa pacar kecilnya mengatakan hal tersebut. tapi kepalang tenggorokannya yang sudah mulai kerontang, morgan menggeserkan diri dan membaringkan naalira di atas bantalnya. ia mengusap pelan rambut naalira sebelum turun ke bawah untuk menghilankan dahaga.

di tengah menunggu gelasnya terisi air, lelaki bertinggi badan 190 cm ini berpikir sebentar tentang perkataan pacarnya tadi. setelah hampir setahun kenal dan menjalin hubungan dengan naalira, sedikit banyak ia tahu mengenai kehidupan personalnya. naalira anak tunggal, ayahnya pilot, dan ibunya bekerja di daycare yang lokasinya tidak jauh dari rumah mereka. naalira mulai menyusun karir berenangnya dari kelas 3 sd sampai sekarang sudah memenangkan banyak penghargaan. oh, seingat morgan, tantenya naalira itu model terkenal juga yang sekarang tinggal di new york.

apa lagi ya?

morgan baru tahu dasar-dasarnya saja sih. mau digali lebih dalam rasanya tidak esensial karena morgan takut terlihat memaksa, morgan yakin naalira pasti akan cerita lebih banyak kalau dia mau dan siap. namun mengingat reaksinya tadi membuat morgan mengira apakah ada hubungannya dengan masa lalu? trauma? atau morgan yang berpikir terlalu jauh—

“fuc– aduh, kepenuhan.” perlahan morgan angkat gelasnya yang terlalu penuh dan meminum sedikit isinya agar tak lebih banyak lagi yang tumpah. ia mengambil selembar tisu dan mengelap sisa air yang mengalir ke bawah tadi.

ia naik kembali ke atas dengan sedikit rasa khawatir karena takut membangunkan naalira tadi. kenop pintu diputar, dan–

“acil?”

yang morgan lihat saat memasuki kamarnya adalah naalira yang terduduk di kasur dan membelakangi dirinya melihat ke kanan. begitu naalira menoleh, matanya merah dan sedikit berair, dengan ekspresi seperti ketakutan dan gemetar. morgan mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum sigap menutup pintu dan meletakkan gelasnya di meja belajar, dengan cepat berdiri dan menangkup pipi naalira dan mengusap pelan dengan jempolnya.

what’s the matter, baby? havin’ a nightmare? kamu gak papa? kenapa? kamu kebangun gara-gara aku ya?” tak pernah morgan melihat naalira dalam kondisi yang seperti ini, bahkan ketika ia mengikuti ajang lomba berenang tingkat nasional. naalira yang selalu morgan lihat adalah yang dipenuhi senyuman manis menampakkan gigi kelincinya serta gaya riangnya yang selalu menghibur morgan.

naalira tak menjawab dan langsung membenamkan wajahnya memeluk morgan.